Aku adalah seorang gadis desa
yang di anugerahi paras yang begitu cantik, bentuk tubuhku sangat seksi seperti
para model yang terkenal, aku selalu merasa bangga atas apa yang telah di
anugerahi oleh Allah SWT, hingga aku melupakan semuanya itu hanyalah titipan yg
sementara.
Aku selalu merasa paling
cantik di antara teman-teman SMA ku, aku juga pernah meraih runner up model
remaja tingkat provinsi ketika aku menginjak kelas 2 SMA. setelah itu kesombonganku
semakin menjadi, meskipun aku hanya anak
seorang anak petani yang penghasilannya pas-pasan aku selalu tampil
modis di sekolah maupun saat aku pergi hang out bersama teman-teman. Hingga tak
ada yang menyangka bahwa aku hanyalah seorang anak dari petani.
Rasa ingin tahu ku tentang
dunia malam membuat aku mengiyakan setiap ajakan teman-temanku, pergi ke bar,
party bersama teman segeng ku, aku lakukan setiap malam tanpa memperdulikan
orang tuaku yang mencemaskan ku karna aku selalu keluar malam, wajar saja jika
orang tua ku sanggat khawatir dengan ku, karna aku anak perempuan satu-satunya
di keluargaku, namun keindahan masa-masa remaja itulah yang membutakan mata
hatiku,
Meskipun aku tak berkecukupan
uang tetapi dengan modal wajahku yang cantik dan para pria yang memperebutkanku,
aku bisa mendapatkan uang dengan semua lelaki yang menjadi pacar ku, hingga ada
seorang teman yang mengatakan aku wanita murahan. Tapi bagiku ini adalah
hidupku dan duniaku, semua omongan dari orang tuaku dan teman-teman yang menasihatiku
aku anggap angin lalu.
Perlahan-lahan aku mulai
merasa Allah telah murka kepadaku, para sahabat yang ku anggap keluargaku mulai
menjauhi ku, mereka bilang aku tak tau malu dan tak bisa berterima kasih, tapi
waktu itu aku anggap biasa karna tanpa mereka aku masih bisa menikmati dunia
remajaku, masih ada para kekasihku yang akan setia menemani aku untuk pergi
party.
Sering gonta-ganti pacar
membuatku merasa semakin sombong karna aku merasa bahwa aku gadis yang tak ada
saingannya. Belum lagi aku tergolong siswa yang cerdas dan aktif di sekolah
berbagai lomba, serta piala aku dapatkan semasih aku duduk di bangku SMA, aku
juga tak pernah lepas dari 3 besar, Hingga hal itu membuat aku merasa santai,
semua pelajaran di sekolah yang dulunya selalu tekun belajar setiap harinya aku
anggap enteng dan aku mulai sering bolos ketika jam belajar.
Puncaknya saat akan kelulusan SMA, semua
temanku sibuk mempersiapkan untuk ujian, tapi aku malah santai &
bersenang-senang dengan kekasihku, dunia malam seakan menjadi kebutuhanku,
hingga waktu pengumuman telah di umumkan, dari 533 siswa hanya aku yang tak
lulus sedangkan sahabatku yang dulunya ikut mencicipi dunia mlam dan tergolong
siswa yang kurang pandai mereka malah lulus dan mendapat nilai yang cukup memuaskan,
Saat itu aku mulai merasa ini
semua tak adil karna aku tergolong siswa yang pandai,
Kemarahanku semakin memuncak ketika
aku harus menghadapi kemarahan orang tua ku atas apa yang telah aku perbuat
selama ini.
Menerima kenyataan itu aku
pun berencana kabur dari rumah dan ikut kekasihku yang tinggal di sebuah
apartemen, ntah apa yang membutakanku saat itu, aku tak tahu jika kekasih ku
yang selama ini selalu menuruti keinginanku dan memberikan materi kepadaku
ternyata dia seorang germo yang menjual para gadis di bawah umur kepada lelaki
hidung belang, dia tega menjualku kepada seorang yang mampu membayarku dengan
mahal, aku yang mengetahuinya itu sangat marah kepadanya dan dia malah berkata
“itu adalah balasan karna
selama ini dia telah menghabiskan banyak uang untukku dan aku harus membayarnya
dengan cara yang kotor seperti itu,”
aku tak dapat berbuat apa-apa
lagi, saat itu aku merasa bagaikan berada di lingkaran iblis yang menjeratku.
2 tahun aku jalani menjadi
seorang pelacur, masa muda yang aku bayang-bayangkan indah menjadi suram yang
seharusnya aku dapat menimba ilmu di bangku kuliah seperti teman-temanku malah
aku harus menimang anak yang tak tahu siapa ayahnya, kekasih yang aku banggakan
dahulu sekarang hanya dapat menyiksaku jika aku tak dapat memberiikan setoran
kepadanya,
Hingga akhirnya petualanganku
harus berakhir di jeruji besi aku memutuskan untuk menyerahkan diri dan
melaporkan kekasihku kepada polisi atas apa yang dia kerjakan selama ini. Ini
memang keputusan terberat bagiku karna aku tak mempunyai jalan terbaik lagi,
jika aku pulang ke keluargaku pasti aku tidak akan di terima lagi sedangkan
para sahabatku telah enggan dan merasa jijik jika melihan keadaanku sekarang.
Aku baru menyadari sikap
sombong dan merasa mempunyai segalanya nya lah yang menjerumuskan aku kedunia
yang kelam ini, impianku seakan-akan menjadi hancur, seharusnya dari dulu aku
bisa menahan diriku untuk tidak terjerumus kedalam dunia kelam itu dan mampu
menjaga karunia yang telah di beri darii Allah dengan baik,
Sekarang penyesalan hanyalah
sebuah penyesalan, tak ada kesempatan kedua untukku waktu terus berputar dan
kini hanya tinggal aku dan tangis penyesalanku yang tiada berujung, hanya
dinginnya lantai penjara yang dapat aku nikmati sekarang dan buah cintaku harus
ku relakan untuk tinggal di panti asuhan bersama pengasuhnya, semoga saja
anakku tidak akan menagalami nasib yang sama seperti diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar