Awal Tahun 2014 Ini
mungkin mungkin akan menjadi tahun yang membahagiakan bagi Nadin, Hidupnya
dilengkapi oleh orang-orang yang mencintainya, dia telah memiliki seorang
pujaan hati yang amat tampan, baik, dan selalu meyayanginya, bagi nadin
kekasihnya adalah arjuna yang telah diturunkan oleh Tuhan untuknya,
Namun pertengahan Januari
Arya kekasih Nadin harus meninggalkan Nadin untuk melanjutkan kuliahnya di
kota, hal ini membuat Nadin merasa sedih karena harus melalui hari-harinya
sendiri tanpa Arya.
Februari tepat hari
valentine Nadin menyuruh Arya untuk kembali ke desa dan merayakan hari kasih
sayang berdua dengan dirinya, namun saat itu Nadin harus merasakan kecewa
karena Arya tidak bisa menemani dia tahun ini saat valentine. Bagi Nadin
valentine tahun ini menjadi valentine terburuk, karena Arya kekasihya tidak
dapat berada di sisinya serta orang tua Nadin sibuk memikirkan pekerjaan
kantornya.
Hari demi haripun Nadin
lalui sendiri tanpa Arya, hatinya merasa kalut ketika sebagian teman-temannya
mengajak pergi liburan, namun Nadin menolak karena bagi dia percuma saja untuk
dia pergi tanpa kekasihya berada di samping, toh teman-temannya pergi bersama
kekasihnya masing-masing, rasa kecewa dan sedih tersebut dia pendam dan tak
pernah dia ceritakan kepada Arya, dia takut jika Arya mengetahuinya malah akan
mengangu konsentrasi belajarnya
Bulan Mei Nadin pergi
untuk berlibur di tempat saudaranya Ana, disitulah Nadin mulai bisa mengahapus
rasa sedihnya. Ada Ana saudaranya yang selalu menemani hari-harinya dan
mendengarkan setiap cerita dari Nadin
Suatu hari Ana mengajak
Nadin untuk pergi berlibur di pantai, saat dipantai itulah Nadin melihat
seorang penjual kalung dimana salah satu kalung tersebut ada yang memikat
hatinya,
“Berapa harga kalung
ini bang” ucap Nadin seraya memegang kalung tersebut
“Maaf Neng kalung
tersebut tidak saya jual”
“Maksud abang” Tanya Nadin
heran
“Kalung tersebut hanya
akan saya jual kepada seorang lelaki yang akan menghadiahkan ulang tahun bagi
kekasihnya”
“Kenapa bisa begitu
bang?”
“Karena kalung ini
memiliki filosofi”
“Emang apa filosofi
dari kalung tersebut”
“Bagi siapa saja yang
menghadiahkan kalung ini kepada kekasihnya, maka hubungannya akan terus
berlanjut sampai maut yang memisahkannya”
“Terus jika saya yang
membelinya untuk saya hadiahkan kepada kekasih saya bagaimana bang? Apa tidak
bisa?
“Tidak neng, adat
disini hanya mempercayai bahwa lelakilah yang boleh membelinya dan kemudian
menghadiahkannya kepada wanita pujaan hatinya,”
“Ya sudahlah bang,
mungkin kalung itu tidak berjodoh untuk saya”
“Kalau memang neng mau
memilikinya, kenapa neng tidak menyuruh aja kekasih neng menghadiahkannya
kepada neng saat ulang tahun neng”
“Tidak mungkin bisa
bang, karena kekasih saya sedang berada di kota dan dia mungkin tidak akan
sempat untuk pergi berlibur disini dan
membelikan barang ini kesaya. Ya sudahla bang saya permisi” pergi
meninggalkan si penjual dengan hati kecewa
Setelah kejadian itu Nadin
selalu murung, dia ingin memiliki kalung tersebut belum lagi filosofi dari
kalung tersebut sesuai dengan yang dia harapkan. Dia ingin sekali meminta Arya
membelikannya nanti ketika dia ulang tahun yang ke 17. Tapi seketika itu
harapannya dia buang karena bagi dia mana mungkin Arya bisa membelikannya
hadiah itu, karena semenjak berada di kota Arya jarang sekali menghubunginnya
dan menannyakan keadaannya, mungkin dia terlalu sibuk dengan kuliahnnya tanpa
memikirkan keadaan Nadin yang dia tinggal pergi.
Melihat Nadin yang
terus murung dan berdiam diri Ana berusaha menghiburnya, dia meyakinkan Nadin
bahwa Arya pasti selalu memikirkannya juga, dan dia menyuruh Nadin untuk
ngomong langsung dengan Arya jika ulang tahunnya nanti yang ke 17 tahun, Nadin
menginginkan Arya membelikan kalung tersebut.
Tapi Nadin enggan
menyampaikan keinginannya, baginya biarlah dia menyimpan keinginannya sendiri
tanpa perlu menggangu Arya yang sedang
mengejar cita-citanya. Hari-hari Nadin pun kini hanya bisa dia isi dengan
menyendiri dan menggoreskan setiap permintaannya di buku diary, dia ingin
semuanya akan kembali seperti dulu, bisa bersama-sama dengan Arya yang ia
cintai.
Bulan Agustus Nadin memutuskan
untuk pulang ke rumahnya baginya cukup dia berlibur di tempat Ana saudaranya.
Ketika pulang dari tempat saudaranya Nadin sering merasa pusing yang
berkepanjangan rambutnya pun sedikit demi sedikit mulai rontok, ibunya menyuruh
dia memeriksakan keadaannya ke dokter namun dia selalu enggan bagi dia mungkin
itu hanya sakit biasa,
Sebulan pun berlalu
keadaan Nadin semakin memburuk rambut yang mejadi mahkotanya semakin menipis
dan rontok, terkadang Nadin sering
pingsan dan mengeluhkan sakit kepala kepada ibunya, melihat keadaan Nadin yang
seperti itu, akhirnya ibunya pun membawa Nadin ke seorang dokter untuk
menanyakan penyakit yang dia derita.
Sungguh terkejut hati Nadin
mendengarkan pernyataan dokter tentang penyakitnya, baginya keadaanya yang dulu
bahagia kini malah berputar 180o , Nadin harus mendapati dirinya
menderita penyakit yang akan merenggut nyawanya, belum lagi kekasihnya yang ia
harapkan untuk bisa menemaninya dikala dia dirawat tak kunjung datang. Nadin
hanya bisa menuliskan setiap keinginannya dan harapannya pada sebuah buku
diary.
2 bulan telah berlalu,
keadaan Nadin semakin memburuk. ia pun semakin sedih, sebentar lagi natal dan ia ulang tahun yang ke
17 tetapi Arya tak kunjung pulang ke desa untuk menjengukknya, padahal Arya
tahu kalau Nadin sedang sakit meskipun Nadin
tak memberitahukan penyakit yang ia derita setidaknya Arya pulang untuk
menjenguknya.
Seminggu sebelum ulang
tahun yang ke 17 suasana duka menyelimuti keluarga Pak Jaya, Nadin putri
tunggal mereka telah berpulang ke pangkuan Sang Illahi. Tentu hal ini sangat
mengejutkan teman-teman Nadin dan kekasihnya Arya, karena selama ini
teman-teman Nadin mengetahui keadaan Nadin baik-baik saja dan Nadin tak pernah
menceritakan penyakit yang ia alami.
Hal ini menjadi pukulan
yang amat pelak yang dialami oleh Arya saat dia bisa pulang ke desa dan
menjenguk Nadin, dia harus mendapati kekasihnnya pergi untuk selama-lamanya, melihat
Arya yang amat terpukul Ana saudara Nadin menceritakan setiap keluhan Nadin
yang ia sampaikan kepada Ana, Ana pun memberikan buku diary Nadin kepada Arya,
karena Ana ingin Arya mengetahui kesedihan yang dialami Nadin ketika Arya pergi
meninggalkannya ke kota.
Dalam diary Nadin,
banyak hal yang ia tulis mulai dari keinginan Nadin tentang kado yang ia
inginkan dari Arya saat dia ultah yang ke 17 tahun, rasa kecewa Nadin karena
harus melewati hari valentine sendiri tanpa di temani Arya, dan yang paling Arya
sesalkan ketika Nadin sakit dan membutuhkan seseorang yang ia cintai berada di
sampingnya malah Arya tak mengabulkan keinginannya, karena itulah Nadin pun
mengurungkan untuk tidak menceritakan keadaanya kepada sahabatnya, bagi dia
kekasihnya saja tak mau menjenguknya buat apa dia menceritakan keadaanya kepada
sahabatnya. Hanya Ana saudaranyalah yang terus setia menemani Nadin ketika
sakit, Ana menceritakan setiap kesedihan yang Nadin ceritakan kepada Ana
tentang Arya.
Kini hanya penyesalan
yang Arya Rasakan, kado yang diinginkan Nadin pun kini Arya penuhi meski Arya tak
dapat memakaikannya kepada Nadin, kalung yang Nadin inginkan Arya letakkan di
atas batu nisan Nadin dan Arya berharap Nadin akan lebih bahagia berada di sisi
Illahi, dia sangat menyesalkan dirinya sendiri kenapa disaat hari-hari terakhir
Nadin Arya tak bisa berada di sampingnnya dan membuat Nadin tersenyum. Dia
sangat menyesal karena selama ini Nadin tak pernah mengecewakannya, Nadin
selalu memenuhi setiap keinginan Arya dan selalu ada ketika Arya
membutuhkannya.
Hanya sebuah penyesalan
lah yang tertinggal, Kado terindah untuk Nadin pun telah terpenuhi meskipun
Nadin tak bisa memakainya dan kini menjadi kado terakhir untuk Nadin di
usiannya yang ke 17 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar